Warung Kopi Jadi Gedung Merdeka

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka karya Vam Gallen Last dan C.P Wlf Schoemakerari

TEPAT Minggu, 24 April 2005 adalah 50 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Sobat-sobat pasti udah tau dong, dulu tuh KAA diselenggarakan di Kota Bandung, dan tempatnya di Gedung Merdeka. Itu tuh…. gedung yang berlokasi di Jln. Asia Afrika No. 65. Gedung yang didirikan pada tahun 1895 ini ternyata awalnya adalah bangunan sederhana yang digunakan sebagai warung kopi. Wah…wah…

Pada tahun 1920 dan 1928, gedung ini direnovasi hingga menjadi bentuk yang sekarang. Vam Gallen Last dan C.P Wlf Schoemaker, arsitek kebangsaan Belanda yang sekaligus guru besar Technische Hogeschhol (Sekolah Tinggi Teknik) — sekarang ITB — adalah orang terakhir yang merancang renovasi gedung yang kemudian dikenal dengan nama gedung Sociteit Concordia.

Pada masanya, gedung ini merupakan paling mewah di Kota Bandung. Lantai gedungnya terbuat dari marmer Italia. Ruang minum dan ruang santai terbuat dari bahan kayu cikenhout (sejenis kayu untuk bangunan). Lampu hiasnya terbuat dari kristal. Luas areal seluruhnya 7.500 m2.

Pada waktu Jepang berkuasa di negeri tercinta ini, gedung ini berubah nama menjadi dai Toa Kaikan. Fungsinya digunakan sebagai pusat kebudayaan.

Perkembangan selanjutnya tatkala Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945, gedung ini menjadi markas para pemuda Bandung dalam menghadapi tentara Jepang. Pada masa pemerintahan pendudukan (1946-1950), yang ditandai dengan pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, gedung ini digunakan sebagai tempat pertemuan umum, pertunjukan kesenian, pesta bahkan restoran.

Awal tahun 1955, Gedung Concordia mulai dipugar oleh Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat yang dipimpin Ir. R. Srigati Santosa. Menjelang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika, pada tanggal 17 April 1955, Presiden RI Soekarno meresmikan penggantian nama-nama gedung yang akan digunakan. Gedung Concordia berubah menjadi “Gedung Merdeka” dan Gedung Dana Pensiun menjadi “Gedung Dwi Warna”. Sedangkan Jalan Raya Timur berubah nama menjadi Jalan Asia Afrika.

Selama pelaksanaan Konferensi Asia Afrika, tanggal 18-24 April 1955, Gedung Merdeka digunaka untuk upacara pembukaan, sidang pleno, dan upacara penutupan. Sedangkan Gedung Dwi Warna digunakan untuk sidang-sidang komisi.

Perkembangan selanjutnya pada saat peringatan KAA ke-25 tanggal 24 April 1980, Presiden Soeharto meresmikan Museum Konferensi Asia Afrika. Museum ini berada di bawah Departemen Luar Negeri c.q. Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri. Sedangkan perawatan dan pemeliharaan gedung secara fisik tetap dilakukan oleh Badan Pengelola Gedung Merdeka. Demikianlah sejarah unik Gedung Merdeka. (drajat)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu 24 April 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *